Newsletter
Biasakan Anak Dengan 5 Kata Penting
| Biasakan Anak Dengan 5 Kata Penting |
|
|
|
|
Mei 2008 / Vol 12 Tema Komunikasi Mendidik anak yang sopan santun dan mampu mengutarakan segala maksudnya dengan jelas, adalah tantangan tersendiri bagi orang tua. Sopan santun alias tata krama merupakan kesadaran yang sensitif atas perasaan orang lain. Jika kita memiliki kesadaran tersebut, berarti kita memiliki sopan santun yang baik. Di sisi lain, peraturan di dunia ini adalah kesadaran. Sejak anak berusia 1,5 tahun, ia mulai bisa mengerti bahwa orang lain mempunyai perasaan seperti halnya di-rinya. Nah, inilah saat yang tepat untuk memulai mendidik anak mengenai sopan santun atau dengan kata lain mengajarkan padanya mengenai perasaan orang lain. Jelas, hal ini lebih mudah diucapkan dibanding pelaksanaannya. Tapi jangan buru-buru putus asa. Kita bisa kok, melatih ananda. Yang penting adalah kesabaran, tidak lekas putus asa dan….TELADAN dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal komunikasi, ada 5 kata penting yang sebaiknya Ayah Bunda ajarkan sejak dini dan latih terus sehingga menjadi suatu kebiasaan bagi ananda. 5 kata tersebut adalah : 1. TOLONG Kata ini sudah mulai bisa diajarkan sejak anak berusia 1,5 tahun. Biasakan untuk "mengharuskannya" mengatakan "Tolong" jika menginginkan sesuatu. Jangan lupa beri anak contoh. Setiap kali anda minta bantuan suami, pembantu, atau siapa saja, jangan pernah lupa me-ngawalinya dengan kata, "Tolong." Selain kata “Tolong” sendiri, ajarkan juga anak untuk mengucapakan kalimat itu dengan intonasi yang sopan, walaupun kepada pembantu. Karena ada juga anak yang mengucapakan “Tolong” ketika meminta bantuan, tapi dengan intonasi memerintah seperti “tuan besar”. 2. TERIMA KASIH Anak usia 18 bulan mungkin sudah dapat mengucapkan kata-kata (meski masih cadel) dan tidak atau belum dapat menangkap arti kata yang sesungguhnya. Baru di saat berumur 2,5 tahun, anak dapat menghubungkan antara kata dan konsep arti. Jika pada usia itu ia belum memiliki kebiasaan baik, didik dan biasakan anak untuk mengucapkan, "Terima kasih" jika menerima sesuatu dari orang lain. Katakan padanya, "Ayo, harus bilang apa kalau dapat hadiah atau makanan?" 3. MAAF Apa yang bisa diharapkan dari balita usia 1,5 tahun yang pengertiannya masih sangat mendasar? Dia pasti benar-benar sulit untuk mengerti, kenapa dia harus minta maaf. Tapi setelah dia berumur 2,5 - 3 tahun, dia akan mengerti konsep tersebut meski masih sangat sempit. Jika ia merebut mainan temannya, misalnya, beri pengertian padanya sambil bermain, bahwa tingkah lakunya salah dan harus minta maaf. 4. PERMISI Pernahkah ketika anda sedang duduk di lantai misalnya, seorang berjalan melewati anda tanpa ba-bi-bu. Bagaimana perasaan anda? Mungkin sebagian besar hanya membatin “tidak sopan sekali orang itu!” Tapi sadarkah Ayah Bunda dalam keseharian kita sering menjumpai kejadian seperti ini? Hal ini karena memang kebiasaan mengucapkan “Permisi” tidak dibiasakan sejak kecil, sehingga tidak menjadi kebiasaan ketika tumbuh dewasa. Karena itu biasakan ananda mengucapkan “Permisi” ketika harus melintas di depan orang lain -- terutama yang berusia lebih tua; ketika masuk ke suatu ruangan (tentunya setelah mengucapkan salam); juga ketika misalnya mengambil sesuatu di depan orang lain saat makan bersama di meja makan. 5. SILAHKAN Nah, ini dia satu lagi. Seberapa sering kita menyaksikan, ketika kita melakukan sesuatu dengan mengucapkan “permisi” sebelumnya kepada orang lain, orang itu akan dengan spontan, ramah dan santun mengucapkan “Silahkan”? Karena itu mari kita ajarkan ananda untuk menggunakan kata “Silahkan” secara tepat, yaitu baik ketika memberikan izin pada orang lain, maupun ketika dia memang bermaksud mempersilahkan seseorang mencicipi atau melakukan sesuatu. Bertindak sopan merupakan sebuah kewajiban dalam hidup dan harus terus dilakukan. Jadi, bukan sekadar perilaku tambahan pada acara perkawinan atau saat anak berada di restoran. Oleh karenanya, sangat penting untuk mengenalkan dan mendidik anak sedini mungkin, sehingga anak merasakan hal itu sebagai sesuatu yang wajar, yang otomatis dilakukan, di mana pun dia berada. Dengan "modal" sopan santun yang baik, anak akan lebih mudah bersosialisasi. Anak-anak yang tidak belajar bersosialisasi sejak usia dini akan tumbuh menjadi anak yang berperangai sulit. Tingkah lakunya yang tak sopan membuat orang tua malu. Misalnya, ketika ia mendorong temannya, ia tak mau mengatakan "Maaf." Juga tak mau atau tidak tahu bagaimana caranya berbagi dengan teman, menanti giliran, dan tata krama umum lainnya. Selain itu, orang tua harus menyadari bahwa belajar tata krama bukan seperti kursus yang memiliki jadwal khusus sekian jam per hari lalu selesai dalam 2-3 bulan. Seba-liknya, diperlukan waktu yang lumayan lama untuk menguasainya dan harus terus-menerus dipelajari. Karena itu jika dirasa sulit membuat anak terbiasa dengan kata-kata sopan, jangan lekas putus asa atau bahkan mencap anak sebagai “memang susah diatur” atau “memang adatnya begitu”. Untuk mengenalkan satu ke-terampilan sosial, semisal me-ngucapkan "terima kasih", mungkin bisa "ditargetkan" dalam waktu sebulan. Tekankan pada si kecil yang sudah berusia 2 tahun untuk tak pernah lupa menghaturkan "terima kasih" setiap kali mendapat atau menerima sesuatu, dari siapa saja. Beri pengertian, hal itu merupakan cara kita menghargai orang lain, mengerti satu sama lain, dan perbuatan itu menyenangkan bagi semua pihak. Jangan lupa untuk terus "mengecek" anak, apakah ia sudah melakukannya mengingat anak usia ini sudah mulai suka membantah, tak mau menuruti perkataan orang tua. Sebagai orang tua, jadilah teladan yang baik. Berarti, jika meminta pasangan mengambilkan sesuatu, selalu dengan didahului kata "Tolong" dan diakhiri dengan kata "Terima kasih." Tak hanya itu! Hindari pula mengeluarkan kata-kata kasar dalam keadaan apa pun juga (termasuk ketika anda sedang marah). Perilaku dan tata krama yang baik harus selalu dilakukan kapan saja, di mana saja, pada siapa saja, dan berikan selalu contoh yang baik di depan anak-anak. Bertindak atau menerapkan perilaku atau tata krama yang baik membutuhkan banyak la-tihan dan kemauan. Jadi, Anda dan pasangan harus saling sadar bertindak dengan tata krama yang baik pula. Misalnya, Anda atau pasangan punya kebiasaan tak menghabiskan makanan di piring sementara Anda menuntut ananda harus selalu menghabiskan makanannya. Nah, melihat contoh yang ada di depan matanya, jangan heran kalau anak jadi bingung, mana yang harus diikutinya. Membiasakan anak berlaku sopan santun ini berlaku di semua tempat dan segala waktu. Karena itu Ayah Bunda harus bersikap koo-peratif dengan semua pihak yang terlibat dengan ananda. Terutama karena ananda masih bersekolah, sehingga sebagian besar waktunya juga dihabiskan di sekolah, sangat penting memantau perkembangan akhlak ananda di sekolah. Caranya dengan jalan menjalin komunikasi intens dengan guru ananda, bersikap terbuka menerima laporan tentang ananda -- laporan baik maupun buruk, serta bersikap kooperatif dan kondusif untuk memperbaikinya. Jika ada satu pihak saja yang berkeras hanya dengan pendapatnya sendiri, maka sadarilah bahwa korbannya adalah ananda yang masih harus tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa. Benarlah sebuah hadits yang isinya kurang lebih menyatakan bahwa anak itu sebenarnya terlahir murni, namun orang tuanyalah yang menentukan kelak anaknya akan menjadi seperti apa.
|


