Profil Kami
Staf Pengajar
| Fun Learning Camp For Kids |
|
|
|
|
Orang Tua Bermutu Anak Berkualitas* Olah Ery Retno Artini, Psi.
Anak adalah orang tua dimasa depan. Masa depan NKRI amat tergantung pada anak masa kini. Apa yang terjadi dengan anak-anak masa kini?
Jika dalam satu pecan anak memiliki 168 jam, 56 jamnya digunakan untuk tidur, sisa waktu yang dimiliki anak tinggal 112 jam. Jika 55 jam per pekan anak nonton TV, maka sisa waktu untuk tumbuh dan belajar tinggal 57 jam. 30 jam waktu anak per pekan dihabiskan di sekolah (6 jam habis untuk berangkat ke dan pulang dari sekolah, dan 7 jam untuk mengerjakan PR). Sisanya masih ada 17 jam. Waktu inimasih dipotong makan 3 jam. Jasi anak hanya punya waktu sisa 14 jam. Apa yang dilakukan anak selama 14 jam jika orangtua tidak mau memanfaatkan waktu ini untuk mendidiknya?
Jika anak nonton TV 12 jam per hari, maka anak akan nonton TV 14 jam per pekan. Berarti 60 jam per bulan an 730 jam per tahun. Kalau dibandingkan dengan kita mengajak anak bepergian untuk melihat keindahan alam selama 9 jam pulang pergi, maka waktu nonton 730 jam dapat dimanfaatkan untuk pergi dengan anak 81 kali per tahun. Mana yang lebih bermanfaat?
Mengapa kita perlu mendidik anak-anak untuk menjadi generasi cerdas?
Apa Peran Orang tua Yang Bermutu?
Apa Yang Kurang Tepat Yang Terjadi Pada Pendidikan Kita?
Zaman sudah berubah dan manusia memiliki kebutuhan yang berbeda, kita mungkin harus merubah pola pengajaran yang selama ini digunakan. Pola pengajaran yang lebih sibuk menghafal begitu banyak informasi. Anak-anak lebih sibuk menghafal daripada memahami. Apakah semua informasi tersebut penting?
Tujuan dari pendidikan Islam BUKAN sekedar mengisi otak anak kita dengan informasi tentang Islam, namun melatih anak untuk memahami apa arti menjadi muslim. Melatih anak untuk dapat membuat melakukan pilihan tepat dan mengambil keputusan sendiri yang benar menurut agama.
Pendidikan dengan pendekatan paradigma baru lebih menekankan pada pemahaman dan bukan hafalan. Pembelajarannya kongkrit dan bermakna pada anak (baca: tema yang dipilih sangat dekat dengan kehidupan anak sehari-hari dan melibatkan seluruh inderanya).
Penentu keberhasilan hidup anak bukan nilai pelajaran sekolahnya, Bukan aspek kognitif, tapi lebih karena karakter atau akhlaqul karimah.
Ada sebuah pepatah, "character is what you are when no one is looking" (karakter adalah apa adanya kita ketika tidak ada seorangpun yang melihat). Jadi seseorang mau berlaku jujur atau tidak karena ada kontrol internal dalam dirinya yang kuat untuk tidak berlaku tidak baik, dan ini sudah menjadi karakternya, dilihat atau tidak dilihat orang.
Dalam agama Islam, Allah SWT sudah menyediakan idola atau contoh teladan. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana caranya kita mengenalkan, memahamkan dan memasukkan nilai keteladanan tersebut ke dalam anak-anak kita.
Proses pendidikan melalui diskusi, dialog, dan membangkitkan kesadaran yang dilakukan pendidik untuk anak didiknya, tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kontrol eksternal seperti peraturan dan sanksi. Control internal akan lebih efektif, sedangkan mengandalkan control eksternal saja akan tetap membuat seseorang berlaku tidak baik kalau ada celah dan kesempatan.
Berdasarkan sejarah dan beberapa peneltitian, cara terbaik menanamkan karakter atau nilai keteladanan kepada anak-anak adalah dengan beberapa cara berikut ini: garis besarnya seperti ini; THINKING, SEEING AND DOING. MEMAHAMI, MELIHAT, DAN MELAKUKAN! Pendidikan Islam harus memiliki kekuatan untuk memberikan inspirasi dan merubah (transpformasi) seseorang.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi orang tua berkualitas untuk membangun generasi cerdas:
* Makalah disampaikan pada kegiatan Seminar "Orang Tua Bermutu Anak Berkualitas" Sekolah Alam Natur Islam Bekasi, Ahad, 27 April 2008. |


